top of page

HUBUNGAN ANTARA KESEPIAN DENGAN IDE BUNUH DIRI PADA REMAJA DENGAN ORANGTUA YANG BERCERAI

Tingginya angka perceraian menunjukkan bahwa perceraian telah menjadi fenomena yang umum dalam masyarakat. Peristiwa perceraian dalam keluarga merupakan masa peralihan dan membutuhkan penyesuaian yang besar khususnya bagi remaja. Sejalan dengan tugas perkembangan yang semakin berat, remaja seharusnya mendapatkan dukungan positif yang optimal agar dapat melalui masa transisi dengan baik (Dariyo, 2004). Secara psikologis, remaja yang berasal dari keluarga bercerai jauh lebih mungkin mengalami masalah emosi seperti kesepian, namun belum tentu semuanya mengalami kesepian ataupun muncul ide bunuh diri. Penelitian King dan Merchant (2008) menemukan bahwa kesepian merupakan variabel interpersonal sebagai faktor resiko bunuh diri pada remaja. Ada tiga komponen yang harus ada pada diri individu yang melakukan bunuh diri yaitu, 1) kemampuan untuk melakukan self-injury, 2) perasaan bahwa dirinya hanya menjadi beban bagi orang lain, 3) serta thwarted belongingness, yaitu perasaan kesepian bahwa individu tidak dapat menyatu atau terkait dengan nilai kelompok maupun hubungan tertentu (Laasgard, Goossens & Elklit, 2010).

​

Hasil penelitian Yuliawati, Setiawan dan Mulya (2007) mendapatkan bahwa sebanyak 37,5% remaja hasil perceraian orangtua ternyata mengalami masalah emosi, misalnya remaja merasa kesepian. Peneliti masih belum bisa menemukan prevalensi mengenai berapa persen remaja dengan orangtua bercerai yang mempunyai ide bunuh diri. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya literatur yang membahas mengenai masalah tersebut. Hasil penelitian Stravynski dan Boyer (2001) menemukan sebanyak 24,7% individu yang kesepian mempunyai ide bunuh diri, namun penelitian tersebut dilakukan pada orang normal, sehingga penelitian ini diharapkan dapat mengungkap hubungan antara kesepian dengan munculnya ide bunuh diri pada remaja dengan orangtua yang bercerai. Stravynski dan Boyer (2001) mengemukakan bahwa remaja yang kehilangan dukungan sosial dan emosional dari keluarga mempunyai resiko tinggi mengalami kesepian. Berdasarkan pendekatan kognitif kesepian yang dikemukakan oleh Gierveld, Tilburg dan Dykstra (2006) menyebutkan bahwa kesepian muncul karena ada kesenjangan antara apa yang diinginkan dan yang diperoleh dari suatu hubungan tertentu. Derajat kesepian yang dirasakan seseorang dipengaruhi oleh jaringan sosial, standar hubungan, serta karakteristik pribadi.

​

Apabila perasaan kesepian yang dirasakan remaja disertai dengan depresi, ketidakberdayaan, atau kondisi psikopatologis lain, maka kemungkinan besar keadaan tersebut dapat meningkatkan resiko munculnya ide bunuh diri. Permasalahan muncul dari sini, sehingga penulis ingin mengetahui lebih lanjut hubungan antara kesepian dengan ide bunuh diri pada remaja dengan orangtua yang bercerai.

​

HASIL

Apabila hasil penelitian diaplikasikan pada pengujian hipotesa, maka menunjukkan Ha ditolak dan Ho diterima. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kesepian dengan ide bunuh diri pada remaja dengan orangtua yang bercerai. Ada beberapa alasan yang menyebabkan remaja dengan orangtua bercerai yang kesepian tidak mempunyai ide bunuh diri yaitu adanya dukungan orangtua yang berkualitas, keterampilan sosial yang baik pada diri remaja dan lama terjadinya perceraian juga mempengaruhi remaja untuk bisa beradaptasi dengan perubahan struktur keluarga dan akibat yang ditimbulkan setelah terjadinya perceraian.

​

Tidak adanya hubungan antara kesepian dan ide bunuh diri juga dapat disebabkan oleh perbedaan setting budaya dan nilai yang ada di Indonesia dengan penelitian yang ada di barat. Perbedaan nilai tersebut misalnya adanya extended family, dimana di Indonesia masih terdapat sanak saudara yang ada sehingga remaja mendapat dukungan dan belum tentu mengalami kesepian. Sedangkan di Barat, kehidupan masyarakatnya bersifat individualis dan seringkali terpisah dari keluarga besar (Emery, 1999). Selain kesepian, ada beberapa faktor lain yang dapat menjadi penyebab remaja mempunyai ide bunuh diri, diantaranya adalah depresi, ketidakberdayaan dalam menghadapi hidup, stres, coping stress, resiliensi, ataupun perasaan gagal remaja dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Motivasi yang paling sering muncul dalam pikiran bunuh diri adalah untuk melarikan diri dari masalah (Maris, 2000).

​

​

Sumber: Dewi, Lita A.K., Hamidah. (2013). Hubungan antara Kesepian dengan Ide Bunuh Diri pada Remaja dengan Orangtua yang Bercerai. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Vol. 2, No. 3 : 24 – 33.

  • Facebook - White Circle
  • Pinterest - White Circle
  • Instagram - White Circle

© 2023 by Jade&Andy. Proudly created with Wix.com

bottom of page